Puji Nur Ripha. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Post Icon

PUISI RINDU

Entah sampai kapan rasa ini membelunggu 
Menyayat segumpal darah yang kian hari kian merah
Tak ada hasrat hamba merindu
Mengenang kisah yang tak pernah berlalu

Seribu doa untukmu tuhan...
Kembalikan ia padaku
Hati ini slalu bertalu
Menyatu...
Bersama detakan jantung yang menggebu

Sebuah irama tak pernah berhenti berlagu
Menyanyikan syair-syair yang syahdu
Gubahannya menggelitik kalbu
Berdendang riang menjadi satu
Dialah seseorang yang aku rindu


Created by Puji Nur Ripha
Bogor, 23 Agustus 2013
@my home - 21 : 01

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Text Deskriptive


BOGOR TRADE MALL

Bogor Trade Mall (BTM) is a large shopping mall located at Jalan Juanda no. 68. It is in walkable distance from the main gate of Bogor Botanical Garden. This strategic location is one of the reason why this mall is very popular and can get very crowded especially in the weekends, during which many people come to this area to visit the botanical garden.
This mall offers different atmosphere than you can find in other malls in Bogor such as Botani Square Mall or Ekalokasari PlazA. In Bogor Trade Mall, you can find many small shops that sell accessories, clothing and shoes with low prices.  If you want to buy or sell used mobile phones, this mall is the place to go.
The anchor tenants of this mall are Ramayana Department Store and Ramayana Supermarket. Both are from the same retail chain company that target the middle-low segments. There are also popular fast food restaurants such as Kentucky Fried Chicken, McDonald’s and Hoka Hoka Bento.
Bogor Trade Mall has a nice, partly outdoor food court. Located on the 4th floor, this food court allows visitor to see the beautiful view of Mount Salak and the eastern part of Bogor. It is also equipped with wireless Internet access as an additional enticement.
This mall can get very hectic especially in the clothing shops area. Therefore, you must take a good care of
your belongings to prevent pickpockets from stealing your wallet and valuables

Puji Nur Ripha
X-D 2013/2014

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

CERPEN

Harga Sebuah Kacamata

Hima menyipitkan matanya, membaca tulisan di spanduk kuning di pinggir jalan.                            
 " Ma-ri-ki-ta-biya-sa-kan-mem-ba-ca " Senyum kecilnya tersimpul di ujung bibir.                        
 " Masih gak jelas ya ka ? " Tanya Akhdan. Seorang anak kecil berkulit lebam, yang berjalan di sampingnya. " Iya de " Jawab Hima malas.
Kakak beradik itu berjalan santai di tepi jalan yang mulai berdebu.
"Kapan berobatnya ka ?" Tanya Akhdan kembali.                                                                                   " Ah.!..kamu kaya yang gak tau aja! Berobat mata kan mahal. Mana ada biaya " Jawab Hima sekenanya. Anak laki itu hanya menggumam pelan. " Emang berapa biayanya ka ? " Tanya Akhdan kembali.
 " Kurang lebih 300 ribu-an lah " Jawabnya singkat.
" Hah? Mahal sekali ka. Ade saja jajan hanya dua ribu sehari, itu pun kalo di kasih sama ibu " 
ujar Akhdan sambil menghitung jari.
 " Iya, makanya sekarang kakak lagi nabung aja ".           
 " Baru berapa ka ? " Tanya Akhdan lagi.
 " Delapan… delapan puluh tiga ribu " Jawab Hima ragu.

Kakak beradik itu tampak serasi, tak pernah ada cek-cok antara keduanya. Mereka hidup damai dibawah atap yang gersang. 
Akhdan sudah tahu sebelumnya, bahwa kakaknya mengalami kelainan mata. Rabun jauh. Begitulah mereka menyebutnya. Sekarang, Hima tengah duduk di kelas 3 menengah atas. Entah bagaimana caranya, meskipun matanya miopi sejak kelas 3 SMP. Tapi, namaya tetap bercokor di tiga besar. Semangat belajarnya tak pernah padam. Sepulang sekolah ia rajin mencatat catatan temannya. Setiap hari pula ia merasa kelelahan mata, tapi itu sudah dihiraukannya. Bagaimana tidak ? sepanjang hari ia memaksa matanya melihat diluar jangkuannya. Semakin hari, kian buram penglihatannya. Mau bagaimana lagi ? Keadaan belum memungkinkannya untuk berobat.
Akhdan, yang baru kelas 2 SMP. Mengerti betul keadaan kakaknya. Ia selalu menyemangati dan memperingati Hima agar keadaannya tak memburuk. Sebenarnya, ia ingin membelikan kaca mata untuk Hima. Tapi apa daya, jawabannya tetap satu. Keadaan belum memungkinkan. Kalau nabung, ia jadi bingung sendiri. Buat sehari-hari saja masih kurang, apa yang mau di tabung. Tapi, di sisi lain, ia juga ingin meringankan beban kakaknya. kasihan melihat kakanya terus memaksakan matanya. Mendengar. Hanya itu yang di andalkan Hima sekarang. Allah memang Maha Adil.

" Hah ? Fisika ? " Tanya Hima keheranan.
" Iya ka. Kan lumayan, kalo juara satu, 500 ribu. Juara dua, 400 ribu. Juara tiga 300 ribu " Jawab Akhdan bersemangat.
" Tapi, sejak kapan kamu suka fisika ? bukannya musuh bebuyutan dari dulu ?. Haha " Ujar Hima cengengesan. 
"Iya juga sih, tapi dimana-mana, yang nama nya nyoba tuh gratis ka. Pokoknya aku mau ikutan ka. Bagaimanapun caranya, harus juara" Balas sang adik sambil tersenyum puas.
" Haha. Yakin menang ? " Hima tertawa lagi. 
" Lihat saja nanti ! " Akhdan menantang kakanya.  
" Oke " Balas Hima.
" Tapi kakak janji, kalau aku dapat juara, kakak harus berobat " Kecam Akhdan. 
" Siapa takut  !" Balas Hima cengengesan lagi. Lalu mereka high five bersama. Hima, hanya tertawa meragukan adiknya.
**
Akhdan mulai menyiram dirinya untuk menumbuhkan bunga-bunga fisika. Karena perlombaan tinggal tiga hari lagi, ia rela siang-malam bercinta dengan fisika. Tekadnya kuat. Harus Juara. Ia belajar seperti di kejar anjing, berkejaran dengan waktu. Dari satu materi, ke materi lain. 72 jam ia pahami seluruhnya. Tekadnya kuat. Harus Juara. Padahal, dari lubuk hatinya,  ia tak sanggup menjadi pemenang. Namun, bila teringat kakanya, keputusasaan nya luntur seketika.
Hima, sang kakak selalu menemaninya belajar. Kadang ia geleng kepala melihat adiknya seakan kesurupan roh Einstein. Tapi ia juga bangga pada adiknya, omongannya tak pernah main-main. Kesungguhannya memang perlu diacungi jempol. Ia tak pernah lelah mengasah mata pisau fisikanya. " ckkk...ckk..." Hima mendecak kagum.
**
Tiga hari, berlalu dengan sempurna. " Teng..Teng..Teng " Lonceng mengayun pelan tiga kali. Semua peserta olimpiade fisika, sudah bersiap di ruangannya. Semuanya tampak santai. Kecuali Akhdan, ia berkomat-kamit, mengangkat tangannya. Berharap Tuhan kan mengirim malaikat nya untuk menjadi penolong dalam perang ini. Mukanya serius menyapa soal-saol olimpiade fisika. Dia bersalaman dengan gemetar, gugup, salting atau apapun itu namanya. Maklum, ini kali pertamanya berpapasan dengan olimpiade fisika. Sebelumnya mana pernah, tapi sekarang ? Rupanya ia sudah agak piawai memainkan rumus-rumus fisika. Soal-demi soal ia lahap dengan gesit. keningnya berkerut, oatknya memutar rekaman materi yang usdah ia hapal sebelumnya. Dua jam berlalu, ia keluar ruangan.
**
Akhdan tampil paling depan bersama kakaknya. Matanya menatap gerakan mulut sang moderator, telinganya mendengar setiap nama yang disebutkan moderator. Berharap ada satu nama yang sudah tak asing lagi di pendengarannya, Akhdan Rifa'i. Namun, di tengah pembicaraan sang moderator. Jantungnya mengetuk-ngetuk keras. Matanya tak berkedip. Lidahnya tiba-tiba kelu. Lalu ia menoleh kepada seseorang di sampingnya. Hima tersenyum manis sambil menepuk bahu Akhdan. Ia membalas senyum kakanya dan bangkit dari posisi semula. Ia tampil di antara ketiga pemenang. Matanya bersinar kala menerima sebuah piala dan sebuah amplop coklat kecil.
" Lumayan, 400 ribu " Bisik hatinya Akhdan. Ia melihat lagi ke kakaknya. Hima tersenyum lebar mengacungkan ibu jarinya. Ia, di guyur air mata. Hatinya, bangga-takjub- heran melihat anak laki-laki itu berhasil menjadi pemenang. Lalu, Hima mencium krning adik kesayangannya itu.
" Akhdan udah nepatin janji. Sekarang giliran kaka nepatin janji " Ujar Akhdan sambil mengangkat amplop coklatnya. Hima hanya bisa terisak bangga melihat adiknya, lalu memeluk erat 
" Makasih de, makasih, makasih banyak " katanya. Akhdan juara dua.

**
Bersama sinar matahari yang menembus celah dinding dan jendela, seorang anak perempuan sibuk berias di depan cermin.
" Hemm... Hidungnya pesek, kacamatanya melorot mulu. haha " Ujar Akhdan cengengesan.
" Haha. kamu bisa saja de. Ini juga karena kamu " Balas Hima sambil memperbaiki letak kacamatanya.
Matahari bersinar terang, mengecup pagi dengan hangatnya. Alam pun tahu, mereka tengah bahagia.
Kakak beradik itu, jalan berdampingan kembali melewati pematang sawah yang menguning. Lalu menyapa capung juga burung-burung yang bersembunyi di balk ilalang. Dan mereka berbelok kekanan, melewati jalan raya menuuju gerbang sekolah masing-masimg.

" Darrrrrr...... !!! " tiba-tiba suara dentuman keras menjerit di udara. Lalu sebuah mobil bak kecil tampak oleng di tengah jalan. Hima dan Akhdan panik. Keduanya saling menyingkir. Namun mobil itu seakan tak bisa di negoisasi. Ia berjalan menembus jalur lalu menyeruduk mereka. Hima kebingungan. Kacamatanya merosot dari posisinya, dan tangan Hima spontan mencopotnya pelan. Mereka berlari menjauh. Namun sayang, kacamata Hima terjatuh ke aspal. Akhdan berbalik hendak menyelamatkan kacamatanya. Tapi, mobil itu terus berjalan cepat mendekati nya. Ia berhasil mengambil kacamatanya. Namun, kakinya tergilas. Hima  ngilu melihatnya. Ia meneriakkan nama adiknya “ Akhdan…Akhdan.. “ Akhdan pucat menahan sakit. darah berhamburan memaksa keluar. Kaki nya biru lebam. Akhdan meringis kesakitan. Ia menutupkan matanya sembari memberikan sebuah kacamata kepada Hima.
**
Inikah Harga kacamata bagi Akhdan ? Lebih dari nyawanya.
“ Aku rela tak melihat selamanya, daripada harus melihatmu seperti ini “ Ujar hima sambil terisak air mata. Debu pun menjadi saksi pengorbanan Akhdan 



Created by Puji Nur Ripha 
Bogor, Darul Muttaqien. 2013

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

cerpen


SELEMBAR KAIN HIJAU
Hewan-hewan malam saling bersahutan di bawah langit Tuhan. Pun suara angin mendayu-dayu menambah keharmonisan sang malam.
Disaat yang lain terlelap, seorang hamba bersujud di sepertiga malam, ia merasa tenang dan tentram. Seakan rontok segala urusannya, pundaknya terasa ringan." Ya Allah, istiqomahkan aku " Hanya itu doanya. Rara, seorang mahasiswi universitas terkemuka di Bandung, usianya sekitar 19 tahun. Ia mengalami keguncangan yang dahsyat, hatinya kalut.
Setelah tahajud malam, ia tertegun. Bermuhasabah diri. Hatinya berzikir, namaun fikirannya melayang. Dia masih teringat ucapan mamanya.  “Buat apa kamu pake jilbab ?" Tanya mama.
"Kan aurat wanita harus di tutup ma" Jawabnya lembut.  "Bikin susah aja. Mau jadi apa kamu ? nyari kerja susah kalo pake jilbab" Cetus mama kasar. Rara terhenyak mendengar jawaban mamanya. Begitu mudahnya ia berkata seperti itu. Batinnya dilema. sebenarnya ia anak yang taat pada orang tua, tapi haruskah ia taat jika mereka memaksanya menanggalkan aurat. Seribu pertanyaan berkecamuk menyesakkkan dada. 
**
Matahari menyibak di ufuk timur. Kemarin biarlah mnjadi kenangan, hari ini adalah kesempatan. Setiap hari, Rara selalu berjilbab coklat yang sudah agak lusuh, warnanya sedikit memudar. Setiap hari pula ia harus menunggu jilbabnya kering sebelum berangkat ke kampus. Ya-mau gimana lagi ?. Pernah ia minta di belikan jilbab baru ke orang tuanya. Tapi apa boleh buat, mereka acuh, sama sekali tak peduli pintanya. Berkali-kali pula ia minta uang tambahan untuk membeli jilbab sendiri. Namun, mereka tetap enggan. Entah apa yang ada di dalam fikiran orang tuanya, hatinya beku. Tak senang melihat Rara berhijab.

Di kampus, kadang ia harus tahan mendengar olokan teman-temannya. Bercakap ini-itu tentang dirinya yang berubah. Tapi ia tak menghiraukan sama sekali. "Astagfirullahalaziim, Ya Rabb, istiqomahkan aku" kata-kata itu yang slalu ia ucapkan di saat keimanannya hampir tumbang. Ya. Kadang Rara merasa lelah dengan semua bebannya, ia ingin bebas seperti dahulu. Namun ia berfikir kembali, masa lalu ? tak jadi,ia sapu segala keraguannya. Rara meradang, tapi ia tetap mempertahanan jilbabnya.
**
Kemarau pamit, hujan mmengguyur daerah parahyangan itu setiap hari. Rara bingung, jilbab nya tak kunjung kering. Nekad ia meminjam jilbab sahabatnya. Syifa namanya, mereka sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMP. Kini kegiatan mereka bukan hanya jalan atau main saja. Mengkaji islam dan menghadiri majlis talim pun menjadi rutinitas wajib mereka.
Kepadanya, Rara menumpahkan keluh kesahnya, perjuangan dan rintangannya berhijab. Ia menangis di pelukan syifa. " Yang sabar yah Ra, kita harus tetap istiqomah" Pesan Syifa memberi semangat. Rara mengangguk pelan, tersenyum dengan air mata.

Mentari tak pernah bosan menyapanya, tersenyum, demi menguatkan iman Rara. Doa dan ikhtiar, itu yang menjadi rumus hidupnya. Ia slalu menyisihkan uang sakunya demi selembar kain untuk menutup aurat nya. Ia juga tak pernah bosan meyakinkan orangtuanya demi tersenyum melihat ia berhijab. Di sujud sepertiga malam, ia menambahkan doanya. “ Lunakkan hati orangtua ku, terangilah mereka "
**
Watu terus berputar. Dari detik ke menit, dari menit berlari ke jam, Lalu besinergis membentuk hari, kemudian bertumpuk hingga berbulan-bulan. Rara merembahkan tubuhnya di atas ranjang. Hari ini,  ia genap berusia 20 tahun, ia bersyukur masih di beri waktu untuk memeperbanyak sujud. Tapi, raut muka Rara tampak sendu. Ia ingin terpejam melepaskan semua yang berkecamuk di kepalanya, tapi ia tak bisa. Ia menatap kosong keluar jendela. Tapi tatapannya sirna ketika mendengar pintu kamarnya diketuk. Ia buka perlahan, dan mendapati mamanya yang tengah berdiri. Ditangannya terdapat kotak kecil yang terbungkus rapi dengan kertas berwarna silver. Mama tersenyum manis melihat Rara, 
" Selamat ulang tahun anakku sayang " ujar mama seraya menyodorkan kotak itu. Rara menganga, ia kaget. Baru pertama kali mendapat kado dari mamanya. Tapi, di wajahnya tampak garis-garis kebahagian. Raut mukanya seketika berubah ketika membuka kotak itu. Ia terharu, hatinya basah. Kotak itu berisi selembar kain hijau bermotif bunga-bunga di Pinggirnya. Selembar kain itu-kain yang dinantikannya berbulan-bulan. kain yang akan di gunakan untuk menjaga kehormatannya. Rara tesenyum lalu memeluk mamanya. Ia menangis sambil bersujud syukur. “ Terimakasih mama “ Jawabnya.

Alam pun berseru. Mungkin ini adalah buah atas keistiqomahannya, atau mungkin jawaban atas sujud sepertiga malamnya, mungkin juga hadiah dari kesabarannya. Dan senjapun bertasbih menyaksikan semua itu. 

created by Puji Nur Ripha 2013

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Cerpen

30 Juz Untuk CInta

Gerimis kecil beruntuhan menyentuh bumi selatan. Langit menggantungkan awan sendu. Seorang laki-laki bercelana hitam, kemeja kotak-kotak merah. Tampak menjinjitkan kakinya. Ia berlari ke arah halte bus di sebrang jalan. Laki-laki itu merapikan kemejanya, mengusir air yang menempel. Ia berdiri di ujung pembatas jalan. Lalu mendongakkan kepalanya ke kanan. Hatinya kesal, bis yang hendak ia tumpangi tak kunjung datang. Ia duduk, berdiri lagi, mendongak ke kanan lagi. " Ahh... belum datang juga" Batinnya kesal. Iseng, dia melayangkan pandangan ke arah kiri. Dalam rintikan air hujan, tampak sebuah mushala kecil yang sudah agak tua. Dindingnya putih kusam, pagarnya berkarat dan di atapnya terdapat sebuah kubah hijau gelap.

"Deg" Jantungnya berdetak keras. Dia ingat, hari ini dia belum shalat duha. Di lihatnya jam yang melingkar di lengannya. Jarum pendek menunjuk ke angka 9 dan jarum panjang nya bertengger di angka 5. Ia berlari secepat kilat ke arah kiri, lalu belok sedikit menuju mushola tua tadi.
Langsung, ia meneyerbu jajaran keran di samping pagar. 

" Trrrr " keran dinyalakan. Ia merasa sesuatu yang luar biasa. Dingin di musim hujan, membuat air ditengah kota terasa seperti di mata air pegunungan. Jernih, bersih, segar. 

"Brrr" air wudlu itu berhamburan menyentuh kulitnya yang sawo matang. Ia bergidik sendiri menahan dingin. Belum lagi,kemejanya yang sudah agak kuyup, membuat suhu di tubuhnya semakin melorot. Laki-laki berkemeja merah itu, melangkah naik ke musahala. Ternyata luas, tapi sepi. Sangat sepi. Ia sadar, ini bukan waktu shalat berjamaah. Namun, secepat mata memandang, ia melihat seseorang bermukena biru, tampak bersujud di atas sajadah. Gerakannya anggun, tapi nampak khusyuk melaksanakan shalatnya. Sejenak hatinya berdesir, ia terkesiap. "Siapakah perempuan yang tengah sujud itu?" Tanya hatinya lembut. Namun, segera ia menepis pertanyaannya. Ia beristigfar memuji Asma Tuhannya. Langsung, ia bertakbir melaksanakan duha-nya. Surat As-Syam, ia lantunkan di awal Rakaat. Lalu surat Ad-Duha menyusul di rakaat ke dua. Ia salam dan berdoa " Allahumma innadduha-Adduhauka..." . Tak sengaja, ia melirik perempuan itu lagi, Ia tampak khusyuk berzikir, menggerakkan kedua tangannya memutar tasbih yang menggantung di jarinya.Laki-laki itu tersenyum kecil, dan segera bangkit.
Ia duduk di anak tangga. Berniat menunggu perempuan yang sejak dari tadi khusyuk ber-duha. Lama ia menunggu,lalu menoleh ke belakang, perempuan itu tampak tenang membaca Al-Quran. Hatinya semakin penasaran. Pertanyaannya kembali terulang. 

" Siapakah ? siapakah ? ..." Namun, Pertanyaannya tak terjawab sama sekali. Sang Perempuan tak beringsut sedikitpun dari duduknya. 

Akhirnya ia pulang. Di mushala tua itu, ia meninggalkan beribu pertanyaan yang tak terjawab.
Esoknya,ia kembali lagi ke mushala. Keadaannya sama seperti kemarin. Hanya ada satu perempuan bermukena biru di sudut kiri. Ia tetap khusyuk bertasbih. Lalu setiap hari ia melaksanakan duha di mushala kecil itu. Berkali-kali ia menunggu, berkali-kali pula hasilnya nihil. Perempuan itu tak pernah beringsut dari duduknya sama sekali. Ia semakin penasran, Mau tidak mau, ia jadi kagum pada perempuan di sudut kiri itu.
Laki-laki berkemeja merah, duduK manis di sudut kanan sambil membaca Alquran. Sesekali ia melirik ke perempuan itu. Namun, tiba-tiba hatinya resah, jantungnya berdebar sangat kencang, Darahnya terasa menguap seluruhnya. Ia melihat permpuan itu tengah salam ke kanan. Dan sejenak, retina matanya menangkap bayangan wajah perempuan bermukena biru itu. Ia tampak bercahaya, bibirnya merah manis, alisnya tebal, bulu matanya lentik. Namun lak-laki itu  terlihat menggerutu, seakan menyesal telah melihatnya. Walau hanya sekilas. Segera ia menundukkan pandangan. Dalam hatinya berbisik "Alangkah indahnya perempuan itu" Tapi ia segera menepis. Beristigfar memohon ampun kepada Penciptanya.
Laki-laki itu bertahajud, hajat dan istikhoroh. Ia mohon ampun atas keresahan hatinya memikirkan perempuan duha itu. 

Di istikhorohnya, ia menitipkan doanya. Mohon petunjuk tentang perempuan yang meresahkannya itu. Diam-diam, ia jatuh hati. 

Matanya terpejam di bawa oleh suara-suara malam mencekam. Dalam mimpinya, ia bertemu dengan gadis duha itu. Mereka saling berpandangan lalu bungkam.

Paginya, ia kembali ber-duha di mushala seperti biasa. Sengaja, ia tiba lebih awal dari biasanya. Berharap, ia bisa bersapa dengan gadis itu. " Fiuh... " Ia menghela nafas kala melihat ke dalam. Tak ada siapa-siapa. Itu berarti, sang gadis duha-nya belum tiba. Ia menunggu di anak tangga sambil membaca buku. Lama ia menunggu, hatinya jadi resah. Perempuan itu belum datang juga. Sudah masuk waktu zuhur, perempuan itu tak datang-datang. Besoknya, ia datang lagi, tapi hasinya sama. Nihil. Berhari-hari ia menunggu, perempuan itu tak kunjung datang. Hatinya semakin gundah gulana. Resah tak menentu. Setiap hari ia menunggu, setiap hari pula ia menahan kecewa.



Jumat pagi, ia kembali duduk di anak tangga. Ia mendapati bapak tua yang tengah menyapu di halaman. Matanya sayu, rambutnya sedikit beruban. seketika ia mendekat, lalu duduk di samping laki-laki itu.                                                                         "Ade ini menunggu siapa? ko ya saya lihat, resah sekali" Tanya bapak tua sambil menyimpan sapu di pangkuannya.

"Hemm..." Laki-laki itu tersenyum kecil. " Sebenarnya...sebenarnya, saya-menunggu perempuan yang biasanya shalat duha di situ, pak! " lanjutnya sambil menunjuk ke sudut kiri mushala.

" Ade mengenalnya?"                                                                                                        "Tidak" laki-laki itu menggeleng.
"Lalu ?" tanya nya lagi.
"Entah kenapa hati saya jadi tak enak setelah melihatnya. saya... saya jatuh hati" Jawabnya.
Bapak tua tersenyum ramah. Lalu bertanya lagi.
"Apa yang membuat ade jatuh hati padanya?"
"Ketaatannya, keikhlasan dan keistiqomahan pada Tuhannya" Jawabnya sambil menerawang.
"Ade akan menikahinya?"
" Insya Allah pa, saya sudah beristikhoroh, dia datang dalam mimpi saya"
"haha. Ade ini punya apa mau menikahinya?" Bapak tua tertawa tak percaya.
Laki-laki itu terkesiap. Diam sejenak, lalu tersenyum sambil berakata " Akan kujadikan hafalanku sebagai mahar" 
"Berapa ayat yang kau hafal?" Tanyanya penasaran.
"30 juz" tegas laki-laki itu. 
Bapak tua tersenyum puas.
"Datangilah orangtuanya"
Ujar nya sambil menyodorkan sebuah kertas berisi nama jalan dan nomer rumah.
Di saat Takbir membahana di setiap sudut bumi, Seorang laki-laki tampak bersujud tak henti-henti. Hujan kembali mengguyur, ia menghitung rintikan hujan dalam hati yang penuh tasbih


created by Puji Nur Ripha 

Darul Muttaqien 2013

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Laporan observasi

LAPORAN BAHASA INDONESIA MENEROKA MASJID SMA DWIWARNA

Identitas observasi: -     Puji Nur Ripha
-       Refira Triandisti Putri
-       M. Irsyad
-       Adly Syaqil
Pelaksanaan obserfasi: Senin, 15 Juli 2013
Tempat observasi: Masjid SMA Dwiwarna
Objek observasi: Benda hidup dan benda mati yang ada di masjid
Alat dan bahan: Buku, pensil, bolpoin, dan laptop
Langkah-langkah dalam mengobserfasi:
1.    Menentukan objek yang akan diobservasi
2.    Menyusun pertanyaan tentang objek dengan mengacu pada 5W + 1H
3.    Menggolongkan benda-benda yang ada di masjid
4.    Mencari data tentang masjid SMA Dwiwarna
5.    Menyusun laporan hasil observasi

Data observasi: 5W + 1H

1.    Apa nama masjid SMA Dwiwarna?
Hikmatul Ilmi. Yang artinya, hikmahnya ilmu.
      2. Kapan masjid ini dibangun?
Perencanaannya pada tahun 1999 dan mulai dibangun pada tahun 2001.
  3. Siapa ketua DKM?
Bapak Umang Umarela S.pd
      4. Mengapa masjid ini dibangun?
Untuk meningkatkan ukhuah islamiah juga merupakan sentral peningkatan dan pengkajian agama Islam serta untuk tempat ibadah masyarakat sekitar.
      5. Dimana letak masjid SMA Dwiwarna?
Masjid ini berada ditengah-tengah kawasan SMA Dwiwarna. Sentral antara gedung sekolah dan asrama putri.
      6.   Bagaiman memperoleh barang-barang yang di Masjid?
Rata-rata barang diperoleh dari sumbangan para murid maupun sivitas dan kas masjid.

Penggolongan benda yang ada di Masjid:

1.    Benda Hidup:
-       Semut
-       Kupu-kupu
-       Nyamuk
-       Burung
-       Jamaah masjid
-       Petugas masjid
2.    Benda Mati:
-       Al-Quran
-       Lemari
-       Mimbar
-       Sajadah
-       Meja
-       Mik
-       Loker
-       Kipas angin
-       Tempat wudhu
-       Batu
-       Sepatu

Pertanyaan-pertanyaan
1)    Apakah benda hidup dan benda mati saling bergantung?
Menurut kami, benda hidup dan benda mati saling bergantung satu sama lain karena makhluk tak akan bisa hidup sendiri tanpa benda mati seperti manusia membutuhkan air, udara, api, tanah. Dan sebaliknya benda mati tak akan bisa berguna tanpa adanya makhluk hidup seperti tanah membutuhkan tanaman. Tanpa ada tanaman, tanah akan menjadi gersang.

2)    Apa persamaan dari mengelompokan?
Mengklasifikasi, menggolongkan.

3)    Termasuk kelompok apakah manusia?
 Makhluk Hidup.

4)    Termasuk kelompok apakah binatang?
Makhluk hidup

Ciri-ciri makhluk hidup:
·         Bernafas
·         Bergerak
·         Bereksresi
·         Membutuhkan nutrisi/makanan

5)    Ada anggapan bahwa manusia adalah bintang yang dapat berfikir. Apakah maksud ungkapan tersebut? Mengapa ada anggapan demikian?
Ada sebagian ilmuwan mengatakan bahwa manusia adalah binatang namun ada juga yang menentang asumsi tersebut. Jadi jika dilihat dari pengklasifikasian makhluk hidup manusia termasuk kedalam jenis mamalia atau hewan

Kesimpulan :
Benda dikelompokkan menjadi benda hidup dan benda mati. Penggolongan tersebut didasari pada sifat masing-masing.

Sumber informasi:
            www.google.com dan Pengamatan objek secara langsung.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS